Bantu Evakuasi di Sumbar, Kantor SAR Palembang Berangkatkan 15 Personel
- Dec 02, 2025
- Arif. S.Sos
PALEMBANG - Gelombang duka yang menyelimuti Sumatera Barat (Sumbar) pasca banjir dan longsor memantik gerakan cepat dari berbagai daerah, termasuk Sumatera Selatan (Sumsel). Basarnas Palembang mengerahkan 15 personel terbaik beserta peralatan lengkap untuk memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan di wilayah terdampak.
Sejak keberangkatan pada Sabtu (29/11/2025), tim langsung diterjunkan ke sejumlah titik kritis untuk membantu pencarian korban yang hingga kini jumlahnya terus bertambah.
“Mereka tidak hanya membawa peralatan, tapi juga membawa harapan bagi keluarga yang menunggu kabar,” ujar Kepala Kantor SAR Palembang, Raymond Konstantin, Senin (1/12/2025).
Raymond mengatakan, personel yang dikirim bukan sekadar tambahan tenaga, melainkan bagian dari upaya pertolongan lintas-provinsi di bawah komando Basarnas. Para petugas harus bekerja dalam kondisi ekstrem: area yang tidak stabil, tumpukan material longsor, hingga cuaca yang terus berubah.
“Setiap menit berarti. Keterlibatan kami diharapkan mempercepat evakuasi dan menekan risiko korban tambahan,” tegasnya.
Basarnas pusat melalui Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, secara resmi meminta Palembang memperkuat operasi di Sumbar setelah situasi dinilai semakin darurat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 30 November 2025 menunjukkan skala tragedi yang begitu besar. Total 442 orang meninggal akibat bencana di Sumatra, sementara **402 lainnya masih hilang.
Rinciannya:
Sumatera Utara: 217 tewas; korban tersebar di Tapanuli Tengah, Tapsel, Sibolga, Taput, Deli Serdang, hingga Nias.
Sumatera Barat: 129 tewas, 118 hilang, 16 luka-luka. Pengungsi mencapai 77.918 jiwa (11.820 KK), banyak di antaranya berada di Padang dan Pesisir Selatan.
Aceh: 96 tewas, 75 hilang. Pengungsi mencapai 62.000 KK di Bener Meriah, Aceh Tengah, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, hingga Nagan Raya.
Setiap data yang masuk, kata Raymond, menjadi tekanan tersendiri bagi tim di lapangan.
“Para personel tahu, di balik setiap nama hilang, ada keluarga yang menunggu dengan cemas. Itu yang membuat mereka bekerja tanpa mengenal waktu,” ujarnya.