BPS Kota Palembang: Inflasi Februari 2026 Capai 0,58 Persen, Harga Emas dan Pangan Jadi Pendorong Utama
- Mar 03, 2026
- Atunnisi, S.Sos
PALEMBANG – Pemerintah Kota Palembang terus memperkuat langkah pengendalian inflasi menyusul kenaikan angka inflasi tahunan (year-on-year/yoy) yang pada Februari 2026 mencapai 4,37 persen. Data tersebut dirilis oleh Badan Pusat Statistik Kota Palembang.
Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, mengatakan kenaikan inflasi dipengaruhi sejumlah faktor, terutama lonjakan harga emas perhiasan serta kenaikan harga komoditas pangan akibat cuaca ekstrem. Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya hasil panen dan terganggunya pasokan di pasar.
“Menipisnya pasokan akibat cuaca ekstrem menurunkan hasil panen. Selain itu, adanya peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional dan Bulan Ramadhan turut mendorong kenaikan harga cabai merah dan daging ayam,” ujar Ratu Dewa saat menyampaikan keterangan di Kantor BPS Palembang, Senin (2/3/2026).
Secara month-to-month (mtm), sejumlah komoditas tercatat memberikan andil terhadap kenaikan inflasi Februari 2026, yakni Emas perhiasan: 0,240 persen, Cabai merah: 0,084 persen, Daging ayam ras: 0,035 persen, Telur, ayam ras: 0,028 persen, Tomat: 0,016 persen
Ikan dencis: 0,015 persen. Di sisi lain, harga BBM non-subsidi dilaporkan mengalami penurunan mengikuti tren harga minyak mentah dunia, sehingga sedikit menahan laju inflasi.
Sebagai respons atas kondisi tersebut, Pemerintah Kota Palembang mengintensifkan penerapan Strategi 4K sebagai upaya pengendalian inflasi agar kembali stabil. "Pemkot akan menggelar pasar murah di tingkat kecamatan dan kelurahan, sekaligus mendorong masyarakat untuk berbelanja di pasar tradisional," ujarnya.
Upaya dilakukan melalui kerja sama antar daerah serta penambahan cadangan pangan guna memastikan stok tetap aman. Pemerintah melakukan rehabilitasi jalan, revitalisasi pasar, dan pengaturan lalu lintas untuk mendukung distribusi barang yang lancar.
Ratu Dewa juga menyampaikan apresiasi kepada Badan Pusat Statistik Kota Palembang dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) atas sinergi yang telah terbangun. Ia berharap kolaborasi yang berbasis data tersebut semakin solid demi menjaga stabilitas ekonomi dan mewujudkan Palembang yang lebih sejahtera.
Sementara itu, Kepala BPS Kota Palembang, Edi Subeno, mengungkapkan bahwa Kota Palembang mengalami inflasi bulan ke bulan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,58 persen.“Inflasi Februari 2026 sebesar 0,58 persen ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026. Berbeda dengan Februari tahun lalu yang mengalami deflasi,” ujar Edi Supeno dalam keterangan resminya, Senin (2/3/2026).
Secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Kota Palembang tercatat sebesar 4,37 persen, sementara inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 0,63 persen.
Edi menjelaskan, lonjakan inflasi Februari dipicu oleh beberapa faktor utama, terutama kenaikan harga emas perhiasan dan sejumlah komoditas pangan.“Harga emas perhiasan mengalami kenaikan cukup signifikan mengikuti tren penguatan harga emas global. Komoditas ini menjadi penyumbang inflasi m-to-m terbesar dengan andil 0,240 persen,” jelasnya.
Selain emas, kenaikan harga cabai merah, cabai rawit, tomat, daging ayam ras, telur ayam ras, serta berbagai jenis ikan turut mendorong inflasi. Peningkatan permintaan menjelang perayaan Imlek dan menyambut Ramadan menjadi salah satu faktor pendorong naiknya harga pangan.
Secara tahunan, kelompok pengeluaran Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga memberikan andil inflasi terbesar yakni 1,82 persen, terutama akibat kenaikan tarif listrik.
Disusul kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya sebesar 1,74 persen, yang didominasi kenaikan harga emas. Dari 393 komoditas yang dipantau BPS di Palembang, sebanyak 89 komoditas mengalami kenaikan harga, 29 komoditas turun, dan 275 komoditas relatif stabil.
Di sisi lain, Edi menyebut terdapat faktor penahan inflasi, yakni penurunan harga BBM nonsubsidi.
“Penurunan harga bensin memberikan andil deflasi sebesar 0,045 persen. Ini dipengaruhi melemahnya harga minyak mentah dunia dan stabilnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS,” pungkasnya.