Dewi Sastrani, Terus Berkhidmat Untuk Warga Palembang

  • Sep 19, 2025
  • Atunnisi, S.Sos

PALEMBANG - Penampilannya bersahaja. Berhijab. Staminanya luar biasa. Nyaris setiap hari ia mengunjungi warga yang perlu bantuan. Berdialog, mendengarkan aspirasi masyarakat.

Di tengah kesibukan sebagai istri Wali Kota Palembang Ratu Dewa, Dewi Sastrani tidak hanya hadir sebagai pendamping, tetapi juga menjadi motor penggerak berbagai kegiatan sosial, UMKM dan pemberdayaan masyarakat. 

Suatu momen penting dalam hidup Dewi Sastrani, adalah ketika ia, per 1 Mei 2025, memutuskan pensiun dini dari status Aparatur Sipil Negara. Tujuan pensiun agar bisa lebih fokus dan berkhidmat melayani masyarakat. Dewi sebelumnya ASN di Pemprov Sumsel. Ia adalah guru agama di SMAN 2 Palembang.

Perempuan kelahiran Lahat, 19 September 1972 silam, yang dikenal ramah dan murah senyum, ini memegang beberapa amanah di beberapa organisasi penting: Ketua TP PKK Palembang, Ketua PMI Kota Palembang, Bunda PAUD, Ketua Dekranasda Palembang, Bunda Literasi.

Setiap perannya menghadirkan warna positif tersendiri. Sejak dilantik sebagai Sebagai Ketua TP PKK Palembang, 6 Maret 2025 lalu, Dewi aktif turun langsung ke lapangan. 

Ia rutin menyapa kader PKK di kecamatan dan kelurahan, memberi motivasi, serta mendorong program pemberdayaan keluarga. 

Dewi juga kerap memberikan bantuan makanan tambahan kepada ibu hamil dan menyusui, sebagai ikhtiar mengentaskan kasus stunting atau kekerdilan di Kota Tertua di Indonesia ini.

“Kekuatan Palembang ada pada keluarga yang sehat, mandiri, dan harmonis,” ujarnya, dalam salah satu kunjungan di Kecamatan Alang-Alang Lebar.
Di sisi lain, tugasnya sebagai Ketua PMI Kota Palembang menuntut kepedulian ekstra. Tantangan besar penyediaan darah menjadi perhatian serius. Dengan kebutuhan rata-rata 7 ribu kantong darah per bulan, Dewi mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk aktif donor darah. 

“Setiap tetes darah adalah kehidupan. Mari kita jadikan donor darah sebagai budaya Palembang,” kata Dewi.

Perhatian Dewi terhadap dunia pendidikan juga tak kalah besar. Sebagai Bunda PAUD Palembang, ia kerap hadir di sekolah-sekolah, membangun semangat belajar anak sejak dini. Senyum ceria anak-anak setiap kali menyambut kedatangannya menjadi bukti kedekatan emosional yang ia bangun. 

“Anak-anak inilah masa depan Palembang. Mereka harus tumbuh cerdas, berkarakter, dan bahagia,” tutur Dewi, ibu dari empat anak: M. Abid Sadewa, Filza Alifa Dewalani, Akhmad Faqih Sadewa, dan Dafa Sadewa.

Pemberdayaan UMKM

Sementara itu, perannya sebagai Ketua Dekranasda Palembang menjadikannya ujung tombak dalam memajukan produk-produk UMKM dan kerajinan lokal. Batik Palembang, songket, hingga kuliner tradisional terus ia promosikan agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas. 

Puncaknya adalah ketika Palembang menjadi tuan rumah Swarna Songket Nusantara, tanggal 1-5 Agustus 2025, yang dihadiri Ketua Dekranasda RI Selvi Gibran dan para istri menteri Kabinet Merah Putih.

Acara promosi, pameran, ekonomi kreatif berbasis UMKN dan pagelaran busana songket nusantara, ini sukses besar.

Menurut Dewi, ekonomi kreatif adalah salah satu cara terbaik mengangkat martabat kota sekaligus mensejahterakan masyarakat. Swarna Songket Nusantara, bagaimana pun, adalah momen yang mungkin dilaksanakan setahun sekali.

Tapi, Dewi Sastrani, punya visi yang menjadikan UMKM tetap diberdayakan sehingga mandiri. Di bawah kepemimpinannya, TP PKK Palembang meluncurkan program UMKM Naik Kelas dan Kampung Kreatif di 18 kecamatan.

Dewi turun langsung ke lapangan. Menyapa ibu-ibu pengrajin, mendengar keluhan pedagang kecil, dan membuka akses pelatihan serta pemasaran digital. 

Produk lokal seperti songket, keripik ikan, dan batik jumputan kini tak hanya dijual di pasar tradisional, tapi juga dipamerkan di forum nasional dan platform digital.

Dampaknya nyata: ratusan UMKM binaan kini memiliki legalitas usaha, akses modal, dan peningkatan pendapatan signifikan. Dewi tak hanya membina, ia membangkitkan harapan.

Dewi percaya bahwa ekonomi kreatif bukan sekadar produk, tapi cerita. Ia mendorong pelaku usaha untuk mengemas produk dengan narasi budaya, melibatkan anak muda dalam desain dan promosi, serta menjadikan kampung sebagai panggung inovasi. 

Kampung Layangan, Kampung Lele, dan Kampung Si Gemoy adalah bukti nyata bahwa kreativitas bisa lahir dari lorong sempit dan tangan-tangan sederhana.

Meski mengemban banyak amanah, Dewi Sastrani selalu menekankan bahwa semua peran yang ia jalani bermuara pada satu tujuan: membawa manfaat bagi masyarakat Palembang. 

“Kerja ini bukan soal jabatan, tapi soal pengabdian. Saya ingin Palembang menjadi kota yang sehat, berdaya, sejahtera, dan penuh kasih sayang,” katanya.
Dari kegiatan sosial, pendidikan anak, hingga pemberdayaan ekonomi, sosok Dewi Sastrani seakan hadir di setiap lini kehidupan warga kota. Ia bukan sekadar figur publik, melainkan perempuan yang memilih untuk hadir, bekerja, dan mengabdi.

Dewi Sastrani juga jembatan harapan bagi banyak warga. Lewat langkah-langkah nyata, ia menghidupkan kembali Posyandu yang sempat lesu, memperjuangkan kesejahteraan lewat pemberdayaan UMKM, dan memberi perhatian kepada mereka yang sering terlupakan — lansia, sakit, atau terdampak bencana.  

Keberhasilan programnya tak lepas dari kolaborasi lintas sektor: Dekranasda, Dinas Pariwisata, akademisi, komunitas kreatif, hingga influencer lokal. Ia menjadikan TP PKK sebagai simpul gerakan sosial ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan kepemimpinannya, Dewi menjadikan TP PKK Palembang bukan organisasi simbol, tapi menjadi gerakan yang “turun ke tanah”, mendengar, dan bertindak. 

Bayangkan! Sebuah keluarga di Palembang, balitanya sehat, ibunya terbantu lewat UMKM, rumahnya aman dari bahaya kebakaran, mudah mendapatkan kebutuhan darah. Itu semua bukan hanya mimpi, tapi bagian dari visi yang sedang diwujudkan.